Informasi Umum


 

DEPARTEMEN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN

HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

 

BALAI BESAR TAMAN NASIONAL LORE LINDU
Jl. Prof. Moh. Yamin No. 53 Palu 94111
Sulawesi Tengah Telp/Fax : 0451-57623

Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Poso
Jl. Tabatoki No. 161 Kawua Poso Kota Selatan Poso 94620
Telp : 0452-23430

Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Lengkeka
Ds. Lengkeka Kec. Lore Barat Kab. Poso

Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Wuasa
Ds. Wuasa Kec. Lore Utara Kab. Poso


 

 Taman Nasional Lore Lindu

Kaya Pesona Alam Kebanggaan Masyarakat Sulawesi Tengah


Letak dan Luas

TNLL terletak sekitar 20 km arah Tenggara kota Palu (menuju Kulawi atau Napu). Secara Geografis terletak pada 119° 58’ – 120° 16’ Bujur Timur dan 1° 8’ – 1° 3’ Lintang Selatan. Secara Administratif, TNLL ini terletak dalam Kabupaten Donggala (sekarang masuk dalam Kabupaten pemekaran Kabupaten Sigi) dan Kabupaten Poso. Di bagian utara, berbatasan dengan Dataran Lembah Palu dan Dataran Lembah Palolo, sebelah timur berbatasan dengan Dataran Lembah Napu, sebelah selatan dengan Dataran Lembah Bada, dan sebelah barat dengan Sungai Lariang dan Dataran Lembah Kulawi.

Secara hukum, Taman Nasional Lore Lindu dikukuhkan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui Keputusan No. 464/Kpts-II/1999 tanggal 23 Juni 1999 dengan luas kawasan 217.991,18 ha. Sedangkan untuk pengelolaannya sebelumnya oleh Balai Taman Nasional Lore Lindu berkedudukan di Palu, terakhir berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.03/Menhut-II/2007, sejak tanggal 1 Februari 2007 diserahkan kepada Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu. Balai Besar membawahi 3 Bidang Wilayah yaitu : Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wil. I di Saluki Kab. Sigi, Bidang Wil. II di Makmur Kab. Sigi dan Bidang Wil. III di Kab. Poso.

Geologi

TNLL terletak di sekitar pertemuan empat lempengan benua yang membentuk pulau sulawesi. Efek dari benturan lempengan ini membentuk kawasan TNLL sehingga daerah ini merupakan pertemuan flora dan fauna dari masing-masing lempengan. Akibat dari adanya penyatuan lempeng tersebut, tidak mengherankan jika di TNLL banyak terdapat lipatan dan perubahan bentuk dari massa daratan sejak pulau ini terbentuk pertama kali.

Pada daerah pegunungan, umumnya berasal dari batuan asam seperti Gneisses, schist dan granit yang mempunyai sifat peka terhadap erosi. Formasi lakustrin banyak ditemukan di bagian timur TNLL, umumnya dataran atau danau yang datar. Di bagian barat, ditemukan alluvium yang umumnya berbentuk kipas atau dataran hasil deposisi sungai seperti teras atau rawa. Sumber bahan alluvial ini berasal dari batuan metamorfosa dan granit.
Tanah

Keadaan tanah di TNLL bervariasi dari yang belum berkembang (entisol), sedang berkembang (inseptisol hingga yang sudah berkembang (alfisol dan sebagian kecil ultisol.
Iklim, suhu, curah hujan dan kelembaban

Secara keseluruhan, curah hujan di TNLL bervariasi antara 2000-3000 mm/tahun di bagia utara dan 3.000-4.000 mm/tahun di bagian Selatan. Suhu bekisar antara 22-34oC. Rata-rata kelembaban udara adalah 86% dengan kecepatan angin rata-rata 3,6 km/jam.

Hidrologi

Kawasan TNLL mempunyai fungsi tangkapan air yng besar, mendukung dua sungai besar, yaitu sungai Gumbasa, sungai Palu dan sungai Lariang di bagian selatan. Fungsi hidrologi ini sangat besar manfaatnya bagi masyarakat di sekitar kawasan dan juga kota Palu, dimana dari fungsi ini air selalu tersedia untuk kehidupan.
Flora

Tumbuh-tumbuhan Sulawesi yang kaya dan endemik merupakan satu dari yang paling sedikit dipelajari dari pulau-pulau utama Indonesia, baik dalam hal komposisi taksonomi serta karakteristik-karakteristik ekologi.

Distribusi geografis dari tipe vegetasi bergantung pada anyak faktor lingkungan, seperti ketinggian, temperatur, curah hujan, drainase, dan kondisi-kondisi tanah. Pembatasan tipe-tipe yang ada dapat menjadi sulit karena transisi-transisi yang terjadi sering tidak terlihat. Selain itu, interaksi antara faktor- faktor lingkungan dapat menciptakan variasi-variasi yang besar pada batas-batas penyebaran tipe–tipe tersebut. Sembilan tipe vegetasi utama dikenal dalam wilayah TNLL, yang terdiri atas:

  • Rawa, wilayah-wilayah tidak terairi dengan baik pada berbagai tipe tanah dan pada beberapa ketinggian;
  • Hutan musim hujan – hutan kering musiman pada pojok barat laut TNLL pada ketinggian rendah (300-700 m dpl);
  • Dataran rendah – hutan yang terairi baik di sekitar batas-batas dari TNLL di bawah 900 m dpl;
  • Pegunungan rendah – hutan antara 900-1.500 m dpl, pada wilayah yang terairi baik sampai tanah yang lembab;
  • Pegunungan – hutan antara 1.300-1.800 m dpl;
  • Pegunungan tinggi – hutan di atas 1.700 m dpl;

Fauna

Taman Nasional Lore Lindu juga kaya dengan fauna khas Sulawesi, seperti Maleo (Macrocephalon maleo), Rangkong (Rhyticeros cassidix), Anoa (Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlessi), babi rusa (Babyrusa babyrousa), Palanger Sulawesi (Phalanger celebencis), Tarsius (Tarsius spectrum), elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus) dan satwa lainnya.

Rangkong (Rhyticeros cassidix)

Megalith

1 Komentar

  1. MANFAATKAN sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sesuai peraturan perundang-undangan, prosedural, dan ARIF, jangan terjebak kepentingan sesaat jika berakibat kerusakan
    LINDUNGI SDAH&E dari kegiatan yang dapat mengakibatkan rusaknya SDAH&E


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s