Artikel


ARTIKEL WISATA :

 

Wisata Alam di Lore

(Khasanah potensi wisata unik di Tanah Lore Kab. Poso)

Oleh : Ir. Anggodo, M.M.

 

Menggairahkan Kembali Pariwisata di Poso

Mendengar kata Poso, mungkin pembaca sudah sering mendengarnya dengan bayangan suatu kota yang pernah mengalami konflik berkepanjangan yang masih menimbulkan traumatik mendalam di hati masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya masyarakat Poso. Kini kondisi Poso sudah mulai pulih dan keamanan telah kondusif.

Sebelum kerusuhan meledak di Poso bulan Desember 1998, pariwisata di Poso menyumbang + 45% dari total penerimaan PAD Poso. Untuk merangsang kembali denyut pariwisata di Poso maka Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah dan Kabupaten Poso baru-baru ini berinisiatif menggelar kembali Festival Budaya Poso yang berlangsung mulai tanggal 13 hingga 15 November 2007, di mana sejak Tahun 1996 event ini akibat konflik yang lalu sudah tidak pernah diagendakan lagi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Poso. Kesuksesan event ini menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Poso kini sudah aman untuk dikunjungi oleh wisatawan.

Pesona Lore Lindu

Danau Poso bukanlah satu-satunya obyek wisata andalan di Sulawesi Tengah. Masih banyak daya tarik wisata alam lain yang bisa ditawarkan selain keindahan Danau Poso bahkan obyek wisata itu berdekatan dengan tempat diselenggarakannya Festival Budaya tersebut yaitu Taman Nasional Lore Lindu (TN-LL) yang tak kalah indah, unik dan menyimpan berjuta pesona. TN-LL merupakan hutan warisan alam dunia yang sangat kaya dengan keanekaragaman flora dan faunanya. Sudah menjadi pemandangan biasa bila kita melihat sejumlah turis dan peneliti mancanegara mengunjungi kawasan ini. Tujuan ke TN-LL selain untuk berekreasi mendaki gunung, memanjat tebing sambil menikmati panorama alamnya yang indah dan sejuk, juga menjadi obyek penelitian para peneliti dalam dan luar negeri. Dengan ditunjuknya TN-LL sebagai cagar biosfer dunia oleh UNESCO seharusnya bisa dijadikan peluang untuk mempromosikan pariwisata di Sulawesi Tengah.

Kawasan TN-LL secara administratif berada di Kabupaten Donggala (Kecamatan Kulawi, Sigibiromaru, Palolo dan Pipikoro) dan Poso (Kecamatan Lore Utara, Lore Tengah, Lore Timur, Lore Piore, Lore Barat dan Lore Selatan) Provinsi Sulawesi Tengah. Kawasan ini telah ditetapkan sejak Tahun 1993 yang merupakan gabungan Suaka Alam Lore Kalamata dan Hutan Lindung dan Taman Rekreasi Danau Lindu. Secara biogeografis kawasan ini merupakan daerah peralihan antara Zona Asia dan Zona Australia atau disebut Garis Wallace (Wallace Line) yang membentang dari Taman Nasional Nani Wartabone di Bolaang Mongondou hingga Donggala dan Poso melintasi hutan TNLL dan menembus sampai ke hutan-hutan tropis di Sulawesi Tenggara.

Adapun potensi flora dominan di kawasan TN-LL yaitu pohon wanga (Figafeta filaris sp.) dan leda (Eucalyptus deglupta). Sementara potensi fauna yang dapat dijumpai di kawasan tersebut, di antaranya anoa (Anoa quarlesi, Anoa depressicornis), babi rusa (Babyrousa babyrusa), monyet hitam sulawesi (Macaca tonkeana), kuskus (Phalanger ursinus, Phalanger celebencis), tangkasi (Tarsius spectrum) dan rusa (Cervus timorensis). Jenis burung endemik yang ditemukan antara lain maleo (Macrocephalon maleo), rangkong (Buceros rhinoceros, nuri (Tanygnatus sumatrana), kakatua (Cacatua sulphurea), dan Aceros cassidix) dan pecuk ular (Anhinga rufa). Juga hidup bermacam-macam reptil, ikan dan serangga.

 

Obyek wisata alam di Lore

Obyek wisata andalan yang tersebar di sepanjang Tanah Lore yaitu obyek wisata bird watching di Padeha, air terjun di Wuasa dan Kolori, air panas di Watumaeta dan Lengkeka, camping ground di Wuasa, arung jeram di Sungai Lariang di Gintu, satwa liar rusa di Torire dan anoa di padang Lelio, Watumaeta, Wuasa serta satwa tarsius di Lengkeka dan juga situs batuan-batuan megalith yang tersebar di lembah Bada dan Besoa. Di samping itu dapat ditawarkan pula wisata budaya etnik lokal di lembah Napu dan Bada yang unik dan kaya dengan adat istiadat.

Melihat potensi alamnya, kawasan ini sangat menjanjikan dan bisa memuaskan hasrat para wisatawan untuk berkunjung melakukan wisata minat khusus dan selalu ada keinginan untuk berkunjung kembali ke kawasan nan indah ini. Tanah Lore yang cantik itu saat ini masih dikatakan benar-benar masih perawan. Untuk perjalanan darat dapat ditempuh sekitar 3,5 jam dari Palu atau sekitar 1,5 jam dari Poso.

Strategi promosi wisata alam di Lore

Selama ini para pengunjung baik peneliti maupun wisatawan asing dengan tujuan berkunjung ke kawasan konservasi biasanya didampingi oleh guide setempat datang berkunjung ke Lore melalui pintu masuk dari Manado, Gorontalo, Makassar atau Toraja langsung ke Poso tanpa melalui Palu. Hal ini menyebabkan pihak kantor Balai sulit memantau kunjungan peneliti dan wisatawan di Lore. Dengan keberadaan kantor Bidang Wilayah III yang berkedudukan di Poso diharapkan kedatangan para pengunjung dapat termonitor oleh petugas Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.

Dari pantauan dan wawancara dengan para wisatawan asing, didapatkan penjelasan bahwa sebagian besar mereka yang datang berkunjung ke Lore sekedar mampir setelah mengunjungi Tana Toraja atau berwisata ke Bunaken. Ada keinginan untuk menciptakan peluang melalui pariwisata sekaligus mengemas suatu paket wisata alam tanpa mengancam dan menyebabkan kerusakan hutan di wilayah Lore. Strategi promosi wisata alam juga harus disusun dengan rapi, baik promosi ke dalam maupun ke luar negeri, termasuk identifikasi segmen pasar yang potensial di dalam dan luar negeri. Obyek dan daya tarik wisata alam yang merupakan keanekaragaman hayati beserta fenomena ekosistemnya merupakan modal utama bagi pengembangan industri pariwisata alam. Maka, pemanfaatan dan pengembangan serta kelestariannya di Taman Nasional akan memberikan kontribusi bagi kemajuan industri pariwisata alam.

Selama ini Taman Nasional terus mempromosikan potensi wisata yang ada kepada calon wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Promosi dilakukan dengan penyebaran leaflet, brosur dan website dan mengikuti pameran.

Tentunya tidak mudah untuk mengemas suatu paket obyek wisata alam karena tidak sama dengan mengemas obyek wisata rekreasi biasa. Sebab itulah harus diperhatikan obyek wisata mana yang layak jual atau punya potensi dan dapat dijadikan paket wisata termasuk fasilitas dan prasarananya. Apa yang unik dari obyek wisata tersebut atau daya tarik pesona alamnya. Siapa dan di mana yang akan dijadikan target concumers-nya. Bagaimana cara memasarkan dan membuat promosinya. Yang harus dipersiapkan juga antara lain adalah siapa rekanan biro perjalanan wisata yang potensial dan penginapan-penginapan yang mampu untuk mendatangkan para wisman dan wisdom. Dari pihak Taman Nasional perlu disiapkan petugas-petugas yang semula melulu mengawasi dan mengamankan hutan (Polhut) ke arah petugas pelayanan jasa kepariwisataan. Sementara itu, berkaitan dengan minimnya sarana-prasarana pariwisata yang sudah tersedia saat ini, perlu dilakukan pembenahan dan penambahan terhadap gapura pintu masuk/keluar kawasan, papan petunjuk jalan, shelter-shelter, home stay dan visitor center yang sudah ada serta penambahan menara pengamatan satwa/burung.

Diperlukan juga kerja sama dengan komponen-komponen pariwisata seperti travel agent, media massa dan lain sebagainya. Dengan harapan peluang pasar wisata semakin terbuka. Untuk memasarkan objek dan daya tarik wisata alam di Lore diperlukan upaya promosi sejak dari kedatangan turis asing ke Indonesia, untuk itu perlu bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Association of Indonesian Tour and Travel Agency/ASITA), Biro-biro perjalanan wisata di Jakarta, Denpasar dan kota-kota besar lainnya, kota terdekat seperti Manado dan Toraja, sehingga turis asing tidak hanya datang berkunjung ke Taman Nasional Bunaken dan Tana Toraja tetapi menyempatkan juga untuk datang ke Lore (Penulis adalah Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wil. III Poso Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu).


Referensi

Balai Taman Nasional Lore Lindu. 2004. Buku Informasi Taman Nasional Lore Lindu. Proyek Pemantapan Pengelolaan TN-LL T.A. 2004. Palu.

Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu. 2006. Taman Nasional Lore Lindu. (http://www.lore-lindu.info).

REPORTASE

 

Festival Danau Poso

(kepuasan bagi pemburu kenikmatan wisata)

Oleh :

Ir. Anggodo, M.M. (Kabid Pengelolaan TN Wil. III Poso, 2007-2009)

 

Pesona Danau Poso

Pagi yang sejuk di awal bulan November lalu, Danau Poso di Tentena “kota wisata” ibukota Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso menawarkan pesona alam nan cantik yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hamparan airnya yang biru yang jernih dengan pasirnya yang berwarna kuning keemasan dengan panorama alam di sekeliling danau yang sangat indah dikelilingi oleh perbukitan dan hutan di sekitarnya yang berdiri kokoh bagai memagari danau. Berdiri di pinggiran danau bagaikan berada di surga dunia dan seakan terlupa kepenatan hidup sehari-hari berganti dengan kenikmatan ragawi dan batiniah sekaligus mengagumi kebesaran Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Luas danau ± 32.000 Ha yang membentang dari utara ke selatan sepanjang 32 kilometer dengan lebar 16 kilometer dan kedalaman mencapai 510 meter dan danau ini berada pada ketinggian ± 657 meter dpl.

Danau Poso dengan letaknya yang strategis pada perlintasan jalan Trans Sulawesi antara Palu, Poso, Toraja, Gorontalo dan Manado membuat Danau Poso selalu disinggahi wisatawan lokal maupun mancanegara. Danau ini dapat dicapai dengan perjalanan darat 57 kilometer dari kota Poso atau 283 kilometer dari kota Palu.

Bagi pembaca yang akan berkunjung ke Sulawesi, sempatkanlah untuk berkunjung ke Poso menikmati keindahan alam Danau Poso di Tentena, dan jangan lupa untuk mampir ke obyek-obyek wisata lain yang menawarkan pesona alam unik dan menarik di sekitar Danau Poso yang tentunya dijamin dapat memberikan kepuasan bagi para pemburu kenikmatan wisata.

 

Festival Tahunan di Danau Poso

Festival Budaya Poso ke- X telah berlangsung tanggal 13 hingga 15 November 2007 yang lalu. Festival ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan sejak Tahun 1989 untuk pertama kalinya oleh Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah dan telah berlangsung berturut-turut sebanyak sembilan kali sejak Tahun 1989 sampai dengan 1997. Sejak krisis moneter Tahun 1997 dan berlanjut dengan konflik berkepanjangan di Poso membuat event tahunan ini terhenti selama 9 tahun.

Festival Danau Poso (FDP) kali ini mengangkat tema sentral “Melalui FDP kita rajut tali persaudaraan dengan nilai-nilai budaya dan pariwisata yang berkearifan lokal membangun Sulawesi Tengah dan menyongsong Visit Indonesian Year 2008”. Festival diikuti oleh delegasi budaya dari 10 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah, serta duta budaya provinsi tetangga seperti Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara.

Event yang menghabiskan anggaran Rp. 600 juta dari APBD perubahan 2007 ini menampilkan belasan pagelaran di antaranya busana daerah, pergelaran upacara adat tradisi, musik tradisional dan lagu daerah serta tarian daerah. Selain itu, memilih putera-puteri duta wisata Sulawesi Tengah, pameran produk dan soevenir, penyajian makanan khas daerah, bermacam-macam perlombaan perahu hias, tarik tambang di atas perahu, renang, dayung, volley pasir, lari marathon 10 K/5 K, permainan rakyat adu gasing dan egrang, eksibisi hiburan dero dan musik bambu serta dialog kepariwisataan.

 

Referensi

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. 2007. Danau Poso. http://www.disparbud-sulteng.go.id (diakses 20-12-2007).

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. 2007. Festival Danau Poso X Tahun 2007. Leaflet. Dispar Prov. Sulteng. Palu.

Fritzinfo. 2008. Festival Danau Poso Bukti Keamanan Membaik. http://www.my-indonesia.info (diakses 20-12-2007).

Danau Poso di Tentena

PENGEMBANGAN PARIWISATA ALAM

DI TAMAN NASIONAL

(mewujudkan impian usang dengan penuh optimisme)

Oleh :

Moch. Erlan S, S.Hut

(Calon PEH Ahli)

 

Isu Lingkungan Global

Telah lama manusia sadar akan pentingnya upaya pelestarian lingkungan. Isu pemanasan global telah “memaksa” penyelenggaraan rentetan konfrensi internasional penyelamatan bumi yang sebenarnya untuk menyelamatkan manusia itu sendiri.

Meski multi kepentingan yang bermain, rentetan kegiatan mulai konferensi bumi CoP-UNFCCC pertama di Rio de Janeiro, protokol kyoto-nya CoP3 sampai Konferensi terakhir yang ke-13 di Pulau Dewata, setidaknya beranjak dari gagasan awal yang mulia, penyelamatan lingkungan. Manusia yang menganggap dirinya spesies paling dominan dan beradab di planet biru ini memiliki hak untuk memanfaatkan dan sekaligus kewajiban untuk melestarikan “rumah” tempat mereka tinggal, beserta seluruh isinya. Mungkin juga sebagai bentuk reaksi suatu mahluk “hebat” yang mulai merasa terancam kehidupnya.

Berkaitan dengan isu perubahan lingkungan, tidak bisa lepas dari tingginya laju kerusakan hutan dunia, karena karbon yang seharusnya “bersemayam” dalam tubuh kayu-kayu di hutan akhirnya dirubah ke dalam bentuk gas-nya dan lepas berterbangan ke atmosfer bumi, menyelimuti bumi secara berlebih dan memberikan kontribusi sebesar 20 % terhadap terjadinya pemanasan global. Celakanya, Indonesia dituduh sebagai negara dengan laju kerusakan hutan tercepat “sedunia”.

Protokol kyoto telah memberikan harapan bagi pembangunan kehutanan di negara berkembang, melalui salah satu mekanisme Clean Development Mechanism (CDM), yaitu mekanisme Carbon Trade (CT), yang bisa diterapkan pada kegiatan aforestasi dan reforestasi. Sayangnya mekanisme ini tidak berlaku bagi upaya pencegahan degredasi hutan, termasuk pencegahan perambahan lahan hutan, illegal loging dan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan.

 

Konservasi Hutan Nasional

Upaya konservasi hutan bukan hal yang baru bagi Departemen Kehutanan Republik Indonesia, hanya saja mungkin perhatian lebih yang sedikit terlambat diberikan. Hutan konservasi Indonesia dibagi menjadi kawasan suaka alam yang terdiri dari kawasan cagar alam dan kawasan suaka alam dan hutan konservasi lainnya berupa kawasan pelestarian alam yang terdiri dari kawasan Taman Nasional, Kawasan Taman Hutan Raya dan Kawasan Taman Wisata Alam.

Kawasan Taman Nasional menjadi lebih menarik, mengingat adanya perpaduan antara konservasi ekosistem asli di dalamnya dan peningkatan pemberdayaan/ kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan dalam pengelolaannya. Bahkan kebijakan Dephut RI telah menetapkan 16 kawasan taman nasional baru, sehingga kawasan taman nasional di Indonesia berjumlah 66 unit. Peningkatan pengelolaan juga dilakukan dengan menetapkan 8 unit Balai Besar Taman Nasional yang tersebar di seluruh Nusantara.

Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan merupakan peluang sekaligus tantangan dalam kegiatan pengelolaan kawasan taman nasional. Dapat dijadikan contoh adalah kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang dikelilingi oleh masyarakat yang telah cukup lama menetap di 64 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional. Kesadaran konservasi dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan dapat berdampak sangat positif bagi pengelolaan, sebaliknya rendahnya kesadaran konservasi dan kemiskinan yang merupakan kondisi lajim masyarakat desa sekitar hutan menjadi ancaman serius terhadap kelestarian kawasan taman nasional. Oleh karena itu, upaya pemberdayaan melalui optimalisasi pengelolaan zona pemanfaatan taman nasional mutlak harus dilakukan.

Hutan menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan manusia dan biasa disebut sebagai manfaat langsung (tangible yields) dan manfaat tidak langsung (intangible yields). Manfaat langsung hutan dapat berupa kayu, buah-buahan hutan, tumbuhan obat, satwa buru dan sebagainya, sedangkan manfaat tidak langsung berupa penghasil udara bersih, tempat penyerapan air yang dikeluarkan kembali sebagai mata air, gudang penyimpan karbon dan jasa-jasa lingkungan hutan lainnya serta penyedia wisata alam. Karena pengambilan manfaat langsung sangatlah terbatas di kawasan taman nasional, maka peluang pihak pengelola dalam pemanfaatan kawasan taman nasional bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan adalah melalui pengembangan jasa lingkungan dan wisata alam.

 

Pengembangan Wisata Alam

Kembali ke bahasan sebelumnya, bahwa pengelolaan taman nasional, termasuk pengembangan pariwisata alam di taman nasional, tidak bisa terlepas dari partisipasi masyarakat sekitar kawasan hutan yang merupakan salah satu stakeholder dalam pengelolaan kawasan taman nasional. Pengembangan pariwisata alam diharapkan dapat memberikan peluang usaha untuk kehidupan masyarakat sekitar. Untuk hal itu, pihak pengelola taman nasional, dimungkinkan juga bekerjasama dengan pihak Pemda dan LSM, dapat memberikan bantuan pemberian pelatihan-pelatihan berkaitan dengan pariwisata alam. Hal yang penting diperhatikan adalah adanya guide lokal yang disebut-sebut sebagai jantungnya pariwisata alam, the heart of ecotourism­. Dengan terbukanya lapangan usaha tersebut diharapkan ketergantungan masyarakat terhadap hutan menjadi semakin menurun. Masyarakat akan mulai merasakan manfaat kawasan konservasi dan termotivasi untuk ambil bagian dalam kegiatan pelestarian alam.

Kontroversi dalam pengembangan pariwisata alam di taman nasional sedikit terdengar ketika ada opini bahwa pengembangan pariwisata akan mengubah ekologi alam, yang pada akhirnya mengubah perilaku dan rusaknya ekosistem asli yang dilindunginya. Namun harus disadari bahwa kegiatan konservasi dilakukan bukan semata untuk lingkungan itu sendiri, melainkan terkait dengan dinamika ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tingkat lokal, nasional bahkan global.

Pengembangan pariwisata alam di taman nasional pada dasarnya bertujuan untuk optimalisasi zona pemanfaatan taman nasional, pemuasan kebutuhan masyarakat akan kegiatan rekreasi alam dan membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar kawasan.

Optimalisasi zona pemanfaatan yang dimaksud adalah pembangunan sarana pawisata alam semaksimal mungkin dengan perubahan fisik alam seminimal mungkin. Pembuatan bangunan harus disesuaikan dengan alam lingkungan dan budaya masyarakat setempat. Pengelolaan limbah dan pemilihan sumber energi harus tepat, efisien dan ramah lingkungan.

Pengembangan pariwisata alam ini juga tidak dimaksudkan untuk pengembangan mass ecotourism. Pembatasan pengunjung perlu dilakukan apabila daya dukung alam tidak lagi sanggup menahan perubahan akibat tingginya intensitas kunjungan wisata. Namun demikian, mass ecotourism masih bisa dikembangkan di lokasi alami sekitar kawasan taman nasional, seperti misalnya pembangunan sarana camping ground. Contoh yang telah berkembang adalah wisata air terjun Bantimurung yang berlokasi di sekitar kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang kabarnya dapat menyumbang milyaran rupiah tiap tahunnya bagi Pemda setempat. Dengan adanya pengunjung, maka secara otomatis akan membuka peluang usaha penyediaan akomodasi bagi masyarakat lokal dan usaha lainnya berkaitan dengan pariwisata alam.

Terdapat beberapa manfaat dilakukannya pengembangan pariwisata alam di kawasan taman nasional, sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Memberikan nilai ekonomi terhadap manfaat-manfaat ekosistem hutan dari suatu area konservasi,

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Menghasilkan income langsung untuk kegiatan pengelolaan area konservasi,

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Menghasilkan pendapatan langsung dan tidak langsung bagi para pemangku kepentingan, memberikan insentif untuk kegiatan konservasi pada skala komunitas lokal,

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Membantu upaya promosi pemanfaatan sumberdaya hutan yang lestari, dan

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Menekan tingkat perusakan keanekaragaman hayati.

Periode terakhir pengelolaan kawasan taman nasional, seperti diamanatkan dalam Permenhut No. P.19/Kpts-II/2004, menghendaki penerapan mekanisme manajemen kolaborasi. Aspirasi para pihak dalam pengembangan pariwisata alam harus diperhatikan untuk meningkatkan dukungan dan partisipasi para pihak dalam pelaksanaannya. Masyarakat lokal sekitar kawasan didorong untuk dapat memanfaatkan peluang usaha dalam rangka peningkatan taraf hidupnya. Dengan hal tersebut diharapkan kegiatan pelestarian alam yang dilakukan di taman nasional seoptimal mungkin seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan, mewujudkan “impian usang” yang sangat kita harapkan.

REPORTASE PATROLI :

 

KEMBALINYA RUSA DI HABITAT TORIRE

Oleh Eko Purwanto, S.Hut*)

Pendahuluan

Desa Torire di Kecamatan Lore Tengah adalah sebuah dengan panorama yang asri dan mempunyai udara yang sejuk. Seperti kebanyakan daerah yang terdapat di dataran tinggi, Desa Torire mempunyai ketinggian ± 1100 dpl, memiliki curah hujan yang tinggi dengan tanah yang subur. Wilayahnya yang berbukit-bukit dengan tumbuhan hutan yang lebat hingga padang rumput, dan lembah-lembah yang subur dengan banyak sungai kecilnya. Sebagian besar penduduknya adalah petani, baik sebagai petani sawah maupun petani ladang. Selain bertani ada juga yang berprofesi sebagai peternak tradisional. Desa Torire adalah sebuah desa kecil. Sebuah kampung yang dieliligi oleh sawah dan kebun milik warganya. Desa ini dikelilingi oleh padang rumput dan hutan. Sebagian dari hutan dan padang rumput itu berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Dibalik aktifitas keseharian masyarakat desa ternyata masih ada satu hal yang unik dan menarik yang tersimpan di desa itu. Keseharian masyarakat bercocok tanam padi sawah maupun padai ladang, menanam palawija maupun tanaman perkebunan, adalah hal yang biasa-biasa. Seperti kebiasaan masyarakat pedesaan lainnya. Yang membuat unik Desa Torire adalah kehidupan Rusa liar yang ada disana.

Sejarah Habitat Rusa di Torire

Rusa adalah salah satu binatang liar yang sangat sulit untuk dijumpai di alam bebas pada saat ini. Namun tidak demikian halnya jika kita berada di Desa Torire. Kita dapat melihat rusa liar dimaksud secara langsung di alam bebas pada waktu-waktu tertantu.

Masayarakat Desa Torire mengkisahkan bahwa pada tahun 1980-an binatang rusa sering dijumpai masuk di perkampungan desa. Rusa-rusa yang masuk kampung sering diburu untuk dikonsumsi. Binatang rusa itu diperkirakan berasal dari dalam hutan dan padang rumput yang ada disekitar desa. Mungkin karena populasinya yang melimpah, membuat mereka sering keluar dari hutan atau padang rumput masuk ke perkampungan, dan mati diburu oleh penduduk Desa Torire.

Oleh karena perburuan, sekitar tahun 1990-an binatang rusa sudah jarang masuk ke perkampungan. Bahkan penduduk kampung sudah sulit menemukan rusa meskipun dicari di dalam hutan atau padang rumput.

Ditemukannya Rusa di Desa Torire

Seorang penggembala kerbau di Desa Torire, yang menggembalakan kerbau-kerbau milik beberapa orang warga telah menemukan/meihat satu ekor rusa di padang penggembalaan desa sewaktu memberikan garam dapur kepada rombungan/ kelompok kerbau yang ia gembalakan. Dimana hampir setiap kali memberi garam dapur kepada kerbau ia melihat rusa diantara rombongan kerbaunya. Kerbau milik warga desa diternakkan secara tradisional yaitu dengan cara melepaskannya secara liar di padang rumput penggembalaan dan setiap hari hanya dipantau jangan sampai merusak tanaman penduduk dan setiap satu minggu sekali sang pengembala memberikan garam dapur kepada ternaknya. Di padang penggebalaan Desa Torire juga terdapat sebuah anak sungai dengan mata air panas dibagian hulunya. Hulu anak sungai ini berbentuk seperti kolam sehingga selalu didatangi oleh rombong kerbau dan rusa untuk minum. Karena di sekitar hulu anak sungai ini sering ditemukan jejak kaki rusa diantara jejak-jejak kaki kerbau.

Rusa yang mulai sering dilihat di Desa Torire menurut keterangan warga sekitar tahun 2000. Pada tahun 2000 ada satu ekor rusa mati dikeroyok anjing warga desa torire. Pada tahun 2000 seorang penggembala kerbau, hampir setiap kali memberi garam pada rombongan kerbaunya ia melihat rusa diantara kerbau.

Berita keberadaan rusa di daerah torire memicu sebagian warga membuat jerat untuk menangkap binatang liar tersebut. Namun karena keunikan rusa liar yang selalu ikut di dalam rombongan kerbau milik warga, membuat penggembala kerbau menjadi peduli terhadap keberadaan rusa di Torire. Kepeduliannya diwujudkan dengan menghibau para warga supaya tidak membuat jerat rusa. Bahkan ada pemikiran dari penggembala kerbau itu untuk melindungi rusa yang sering berabung dengan kawanan kerbaunya. Hal itu ia lakukan dengan cara menghimbau para warga supaya tidak menjerat rusa dan. Hal lain yang ia lakukan karena kecintaan dan kepedulian nya terhadap kebaradaan rusa didalam rombongan kerbaunya adalah dengan sering mengajak anak anak sekolah (diluar jam sekolah) untuk datang di padang penggembalaan kerbaunya supaya anak anak bisa menyaksikan rusa yang sering bersama dengan kerbaunya. Hal ini ia lakukan untuk menumbuhkan rasa cinta anak-akan kepada hewan liar.

Adalah proses yang panjang untuk menyadarkan masyarakat supaya tidak menjerat rusa. Proses penyadarannya juga ditak lepas dari campur tangan petugas Balai TN LL sebagai orang yang mempunyai inisiatif untuk melestarikan dan melindungi rusa liar yang ada tersebut.

Laporan Polhut Balai Taman Nasional Lore Lindu Resort Torire.

Pada oktober 2005 dicurigai ada rusa yang merusak (memakan) tanaman padi penduduk. Untuk mengantisipasi gangguan tersebut penduduk memasang jerat hewan di sekitar sawah mereka, dan tidak ada rusa yang terjerat.

Tahun 2005 ketika polhut melakukan monitoring hutan TN LL di resort Torire bekerja sama dengan the Nature Conservation (TNC), TNC berhasil mendokumentasikan rusa yang bergabung dengan kelompok kerbau di padang penggembalaan Desa Torire. Dan semenjak tahun itu monitoring terhadap rusa dilakukan setiap bulan oleh Petugas Balai TNLL Resort Torire bersama masyarakat.

Pada Desember 2006 karena jagung salah seorang penduduk desa torire rusak dimakan hewan, maka ia memasang jerat hewan di pagar kebunnya. Dilaporkan satu ekor rusa terjerat oleh masyarakat dipagar kebun tersebut.

Penutup

Dari uraian diatas diketahui bahwa masih ada orang-orang yang secara sadar melakukan perlindungan teradap satwa liar yang hampir tidak bisa dilihat secara langsung di alam bebas.

Perlunya perhatian terhadap rusa dan habitatnya supaya keberadaannya menarik perhatian dan dapat menjadi obyek wisata alam liar.

*) Penulis adalah Kepala Seksi Pengelolaan TN Wil. II Gimpu

INFORMASI :

YANG KAYA DAN BERPOTENSI

DARI TAMAN NASIONAL LORE LINDU

(sebuah aset berharga yang harus dipelihara dan dikembangkan)

 

Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), suatu kawasan konservasi yang terbentang di tengah-tengah pulau Sulawesi ini menyimpan sejuta potensi kawasan dan budaya masyarakatnya yang kaya akan kearifan tradisional dalam bidang konservasi sumberdaya hutan. Terdapat wilayah-wilayah di TNLL yang memiliki potensi kawasan dan budaya yang sekiranya mampu membuat TNLL menjadi kawasan konservasi yang berorientasi ke segmen eco-tourims, diantaranya :

 

Toro

Wilayah ini dihuni oleh masyarakat adat Ngata Toro. Aturan lokal membagi wilayah adat Ngata Toro dalam beberapa kategori, yaitu: Wana Ngkiki (zona perlindungan), Wana (hutan untuk hidupan liar), Pangale (hutan sekunder di atas 25 tahun), Oma (hutan zona pemanfaatan yang dapat dikonversi untuk pertanian), Pongota (pemukiman) dan Polidaa (persawahan dan budidaya lahan kering). Tata pemerintahan lokal di Toro terdiri dari tiga unsur, yaitu: Lembaga musyawarah, Dewan Adat dan Pemerintah Ngata. Salah satu bagian dari Pemerintah Ngata yang bertanggungjawab di bidang pengamanan dan penjagaan Ngata, termasuk hutan yaitu Tondo Ngata. Keanggotaan Tondo Ngata, ditentukan melalui musyawarah adat. Bagi para anggota Tondo Ngata, menjaga Ngata merupakan panggilan dalam memelihara kehidupan masyarakat Toro, sekarang dan masa yang akan datang. Dengan aktifitasnya, Tondo Ngata sangat membantu Balai TNLL. Pengakuan Balai TNLL terhadap masyarakat adat di Toro, ternyata sejalan dengan tujuan kegiatan konservasi yang dilaksanakan.

 

Saluki

Wilayah ini memiliki keasrian hutan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati. Perpaduan antara kemajemukan jenis flora dan fauna memberikan bukti nyata akan kekayaan hutan alam di Taman Nasional Lore Lindu. Berbagai jenis burung endemik pulau Sulawesi dapat ditemui di kawasan ini. Salah satunya terdapat jenis burung yang memiliki keunikan dalam segi ukuran telurnya yang besar, burung itu adalah burung maleo (Macrocephalon maleo). Kawasan ini merupakan habitat asli burung maleo disebabkan adanya sumber panas bumi (geothermal) sebagai syarat dalam bereproduksi secara alami. Lebih lanjut wilayah Saluki memberikan sumber pakan bagi keberlangsungan hidup jenis burung maleo, dengan ketersedianya biji-biji dari pohon kemiri (Aleurites mollucana) dan beringin (Ficus sp.) yang tumbuh di kawasan ini. Keberadaan burung ini semakin lama semakin terdesak di habitat aslinya akibat desakan aktivitas masyarakat. Namun demikian lahir pula inisiatif dan partisipasi aktif dari sebagian masyarakat Saluki yang peduli dan sadar terhadap pentingnya keberadaan satwa maleo di alam, dengan membentuk dan memelopori kelompok peduli satwa yang concern akan konservasi jenis burung yang menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah ini. Kelompok ini diberi nama “Cakar Maleo” yang para anggotanya berjumlah sekitar 16 orang, secara sukarela dan tanpa pamrih serta dibantu polhut berupaya selalu menjaga dan memelihara kawasan hutan di Saluki dari berbagai gangguan kerusakan hutan. Sungguh suatu kesadaran (awarness) dari masyarakat setempat yang harus didukung nyata Taman Nasional Lore Lindu.

 

Sedoa

Kawasan TNLL di Sedoa, khususnya daerah Anaso, memiliki keanekaragaman jenis burung yang tinggi, terutama jenis burung Allo/Rangkong Sulawesi (Rhyticeros cassidix), sehingga sangat potensial untuk dijadikan kawasan wisata bird watching. Terdapat 15 marga burung endemik dari sub kawasan Sulawesi yang hidup di kawasan ini, 23 jenis burung yang secara global terancam punah, dan 17 jenis yang dikategorikan mendekati terancam punah (near threatened). Di Lokasi ini telah dilaksanakan program Kesepakatan Konservasi Masyarakat (KKM). Program ini difasilitasi oleh The Nature Conservancy (TNC), dengan tujuan menghijaukan kembali lokasi-lokasi yang terlanjur dibuka, di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan KKM, TNC membentuk Lembaga Adat Desa (LKD). Lembaga tingkat desa ini beranggotakan wakil-wakil dari semua organisasi yang ada di desa, yang terdiri dari: Pemerintahan desa, BPD, Lembaga Adat dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Program ini nampak telah memberikan manfaat bagi kelestarian Taman Nasional, yang berdampak pada menurunnya kegiatan pengambilan hasil hutan oleh masyarakat. Hal ini disebabkan pengenalan aturan dan regulasi dari LKD, sehingga eksploitasi sumberdaya hutan dapat diawasi.

 

Lembah Besoa

Karya nyata yang terlahir dari peradaban nenek moyang Lembah Besoa, berupa patung-patung magalit ini masih berdiri kokoh memancarkan kebudayaan tingkat tinggi dari masyarakatnya hingga saat ini. Patung-patung yang berusia ratusan hingga ribuan tahun ini, tersebar di wilayah Bariri, Doda, Hanggira, Lempe dan Baliura. Ukuran dan bentuk dari patung-patung megalit sangat beragam, mulai dari tinggi yang berukuran 1,5 m hingga 4 m dan ada yang berbentuk patung manusia, jambangan besar (Kalamba), piringan (Tutu’na), batu-batu rata/cembung (Batu Dakon), mortir batu dan tiang penyangga rumah. Sekitar 431 situs ditemukan di Taman Nasional Lore Lindu, konsentrasi obyek yang terbesar terletak di Entovera-dekat Hanggira-, di mana ada 78 obyek, 40 diantaranya Batu Dakon. Lokasinya yang berada di dalam kawasan TNLL membuat hasil karya peninggalan nenek moyang ini nampak harmonis dengan keindahan panorama alam Lembah Besoa. Panorama alam ini tercermin dari kondisi hutan yang masih asri. Hal ini mendukung keberadaan megalit-megalit menjadi kawasan wisata yang memikat. Oleh karenanya TNLL mengupayakan agar patung-patung megalit beserta hutan-hutannya selalu dijaga dan dilestarikan. Perpaduan megalit dengan keharmonisan alam Lembah Besoa ternyata menyimpan daya pikat akan misteri kekayaan sejarah nenek moyang

 (Donny Heriawan & Moch. Erlan).

PESONA SATWA :

 

Tarsius Lore Lindu

 

Oleh Erlan & Tony Tobigo

 

Tarsius adalah suatu jenis primata terkecil yang dapat ditemui pada habitatnya di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan dan pulau-pulau di sekitarnya. Seperti umumnya primata, mamalia nokturnal ini memiliki sepasang mata yang menghadap ke depan, namun dengan ukuran yang relatif besar terhadap ukuran tubuhnya. Hewan ini juga memiliki
sepasang telinga yang menghadap ke depan dengan bentuk yang lebar. Suatu hal yang unik, satwa ini mampu memutar kepala dan lehernya (menengok) hingga 1800.

Di pulau Sulawesi, telah teridentifikasi beberapa spesies Tarsius, diantaranya Tarsius dianae, T. pumilus, T. Spectrum dan beberapa spesies lainnya. Khusus di wilayah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), diduga dihuni oleh spesies T. dianae dan T. pumilus. Selain dua spesies tersebut, hasil penelitian menduga bahwa terdapat satu spesies baru yaitu spesies T. lariang, meski sampai sekarang belum ada pengakuan secara resmi.

Jenis tarsius yang biasa dan mudah dijumpai di wilayah TNLL adalah T. dianae yang habitatnya tersebar hampir di seluruh kawasan taman nasional, terutama di hutan pinggiran (hutan sekunder). Karena kurang tahan terhadap cuaca dingin, T. dianae hanya dapat hidup pada ketinggian kurang dari 1000 meter diatas permukaan laut.

Sebagai satwa nokturnal, tarsius aktif mencari makan pada malam hari. Mangsa buruannya yaitu berbagai serangga di sekitar wilayah teritorinya yang tidak lebih dari 1 hektar. Masa aktif satwa ini sekitar 12 jam, yaitu dimulai pada jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Selebihnya satwa tersebut menghabiskan waktunya untuk beristirahat.

Apabila hari cerah, pada pagi hari sebelum masuk “pohon tidur” sebagai tempatnya beristirahat, tarsius dewasa bersama pasangan monogami-nya biasa mengeluarkan suara untuk memanggil pasangan atau anggota keluarga dan untuk menandai serta mempertahankan wilayah penguasaannya. Suara ini akan sulit terdengar pada saat turun hujan/musim hujan.

Salah satu lokasi habitat tarsius yang sering dikunjungi para peneliti adalah daerah Kamarora yang termasuk kedalam Seksi Konservasi Wilayah II. Di lokasi ini telah terbentuk pula kelompok peduli satwa tarsius, yang beranggotakan masyarakat setempat, di bawah bimbingan dan koordinasi petugas TNLL di lokasi tersebut. Sampai sekarang kelompok ini telah memiliki anggota sebanyak 10 orang.

Kegiatan kelompok satwa ini meliputi monitoring habitat tarsius, mencatat dan melaporkan setiap perubahan serta ancaman yang berpengaruh terhadap populasi satwa tersebut. Selain itu, kelompok peduli satwa ini juga melakukan pengamatan terhadap perilaku tarsius secara sederhana, dan mencari lokasi habitat tarsius lainnya di sekitar wilayah kerja mereka.

Dengan adanya pembentukan kelompok peduli satwa dan kegiatannya ini, diharapkan setiap gangguan terhadap habitat, terutama yang disebabkan oleh aktivitas manusia dapat diminalkan, sehingga kelestarian populasi satwa tersebut dapat dipertahankan.

Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan :

Animalia

Filum :

Chordata

Kelas :

Mammalia

Ordo :

Primata

Familia :

Tarsiidae

Genus :

Tarsius

Ayo menanam !

Majalah BIOSFER terbitan terbaru :

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s